PROPOSAL
PENELITIAN
TRADISI
UPACARA PENGABENAN TIDAK MEBAKAR PUNCAK PELAKSANAANNYA DI SUNGAI DI DESA PEDAWA
KECAMATAN: BANJAR KBUPATEN: BULELENG
(KAJIAN
PENDIDIKAN AGAMA HINDU)
Dosen
Pengampu : I Ketut Pasek Gunawan, M.Pd.H

NI LUH PUTU
ASTINI
NIM:
10.1.1.1.1.3865
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA
FAKULTAS DHARMA
ACARYA
INSTITUT HINDU
DHARMA NEGERI DENPASAR
2014
A.
JUDUL: TRADISI UPACARA PENGABENAN TIDAK MEBAKAR PUNCAK PELAKSANAANNYA DI SUNGAI
DI DESA PEDAWA KEC: BANJAR KAB: BULELENG (KAJIAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU)
B Latar
belakang
Tri Rna tata berasal dari
kata tri yang berarti tiga dan Rna yang berarti hutang. Jadi Tri Rna tata
artinya tiga hutang yang dimiliki oleh manusia. Manusia sebagai anggota masyarakat selalu hidup berdampingan
dengan manusia lainnya. Mereka saling memerlukan dan membutuhkan satu sama
lainnya. Dengan hidup bersama dan berkelompok mereka saling keterikatan yang
disebabkan oleh adanya rasa kasih sayang dan tolong-menolong.
Pitra Yajna adalah suatu upacara pemujaan dengan hati
yang tulus ikhlas dan suci yang di tujukan kepada para Pitara dan roh-roh
leluhur yang telah meninggal dunia. Pitra yajna juga berarti
penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian sesuatu yang baik dan layak kepada
ayah-bunda dan kepada orang-orang tua yang telah meninggal yang ada di
lingkungan keluarga sebagai suatu kelanjutan rasa bakti seorang anak ( sentana
) terhadap leluhurnya.
Pelaksanaan upacara
Pitra Yajna di pandang sangat penting, karena seorang anak ( sentana )
mempunyai hutang budi, bahkan dapat di katakana berhutang jiwa kepada
leluhurnya. Kita ada karna ibu dan bapak ada karna kakek dan Nenek,begitu
seterusnya. Jadi kita ada karna atas
jasa mereka,kita telah berutang kepada mereka .utang kepada leluhur di sebut
Pitra rena utang ini harus di bayar kepada leluhur dengan melaksanakan Pitra Yajna.
Upacara menghormati leluhur dalam tradisi Hindu di sebut Srdha,
Upacara pitra yadnya yang harus kamu lakukan Hendaknya
setiap harinya melakukan Sradha dengan mempersembahkan nasi atau dengan air
dansusu dengan ubi-uban.Dan dengan demikian ia menyenangkan para
leluhur-leluhur kita (Wikarman 2002)
Itihasa Ramayana ”(Rahmayana 1.3), memberikan landasan hukum
akan Adanya Pitra Yajna itu. terjemahan kutipannya adalah sebagai berikut:
sangat
bijaklah sang dasaratha tahu beliau pada veda, bukti kepada dewa-dewa tidak
pernah lupa memuja leluhur, kasih beliau pada keluarga semua” (Wikarman 2002)
Melaksanakan Pitra yajna adalah kewajibanpretisantana
(pewaris). Sebelum selesai melaksanakan Pitra Yajna ini, ia belum berhak mewarisi. Tugas pretisentana adalah sampai
melinggihkan dan memujanya di sanggah kemulan. Setelah kewajiban ini
dilaksanakan,barulah pretisentane itu berhak atas warisan. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan pitra Yajna
leluhurnya akan terkait pada hukum pewarisan. Seorang Pretisentana akan
kehilangan hak warisnya bila ia
ninggal kadaton dan tidak melaksanakan kewajibannya.
Di muka telah di jelaskan bahwa
Pitra yajna wajib hukumnya untuk di laksanakan oleh Pretisentana untuk
itu perlu di perinci lebih lanjut,jenis upacara mana yang tergolong pitra yajna. Pitra yajna yang
berarti korban suci kepada leluhur
secara garis besarnya dapat dibagi dua yaitu:
1.
memelihara ketika ia masih hidup
2.
penyelenggaran upacara setelah kematian
Pemeliharaan orang tua ketika masih hidup,berupa memelihara
kesehatan menjamin ketenangan batinny,dan selalu memuaskan batin orang tua
dapat di tempuh dengan bermacam-macam cara.Namun cara yang terpenting adalah
selalu mengindahkan nasihatnya dan mohon restun untuk segala tindakan yang akan di ambil.ini lah beberapa hal yang
dapat menentramkan hati orang tua itu,inilah pelaksanaan Pitra Yjna, ketika ia
masih hidup.
Pelaksanaan upacara setelah kematian
yang di maksud adalah penyelenggaraan upacara untuk jenasah (sawe) nya, juga
penyelenggaraan penyucian rohnya untuk dapat kembali ke asalnya. Adapun
perincian upacara kematian adalah
1.
membersihkan sawenya (mresihin)
2.Mendem
atau ngurung sementara karna suatu hal belum bisadiaben
3.
ngaben atiwa-tiwa
4.Meroras
atau memukur
Upacara 1 s/d 4 disebut sawe wedane,
yang artinya, penyelenggaraan upacara terhadap sawanya yang pokok. Sedangkan
upacara mroras adalah upacara penyucian rohnya, atauatma wedana. Roh atau Atma
yang telah disucikan disebut Dewapitra, yaitu pitra yang telah mencapai
tingkatan dewa ( siddhadewata ).
Oleh karna itu upacara setelah meroras, tidak lagi tergolong pitra yajna,
tetapi sudah masuk Dewa yajna upacara ini adalah Ngalinggihang atau nuntun
DewaHyang.
Kemudian setelah Dewa Hyangnya
melinggih, maka setiap enam bulan sekali, diadakan upacara Ngodalin ,
demikianlah pitra yajna merupakan hukum yang wajib di laksanakan oleh umat
Hindu, sebagai balas jasa dan pembayaran utang kepada leluhurnya.
Pelaksanaan Upacara Pitra Yajna
kususnya upacara Pengabenan di masing-masing Daerah di Bali umumnya sama, namun
ada beberapa Desa Bali Aga yang memiliki tradisi sangat unik lain daripada Desa
yang lain. Di Bali secara umum, upacara pengabenan biasanya di laksaanakan di
Kuburan dan Mebakar. Namun ada pula di beberapa Desa upacara Pengabenan tidak
di laksanakan di Kuburan dan tidak Mebakar.
Desa Pedawa upacara pengabenannya sangatlah unik berbeda
dengan Desa lain. Di Pedawa Upacara Pengabenannya tidak Mebakar tidak
menggunakan Bade dan Mise dan puncak pelaksanaannya di Sungai. Serta
menggunakan Ayam sebagai simbul dari Atma yang di upacarai. Maka dari itu pada
penelitian ini penulis meneliti tentang Tradisi Upacara Pengabenan di Desa
Pedawa yang di kaitkan dengan nilai-nilai Pendidikan agama Hindu.
C Rumusan Masalah
1. Bagaimana prosesi
Upacara pengabenan di desa pedawa tidak mebakar?
2. Mengapa Pengabenan di desa Pedawe tidak mebakar
serta tidak menggunakan Bade dan Lembu ?
3. Nilai Pendidikan apa yang terkandung dalam
upacaera Pengabenan di Desa Pedawa ?
D.Tujuan
Penelitian
Setiap suatu kegiatan yang
dilakukan pastilah memiliki tujuan yang ingin dicapai, begitu pula dengan
kegiatan atau penelitian yang saya lakukan di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar,
Kabupaten Buleleng.
1. Tujuan
Umum
Tujuan umum dari
penelitian untuk dapat memberikan pemahaman tentang Upaacara Pengabenan tidak
mebakar kepada masyarakat Hindu secara ummu serta masyarakat di Desa Pedawa
khususnya. Yang nantinya dapat dijadikan pedoman dalam pelaksaan upacara
keagamaan yang berkaitan dengan Upacara
Pengabenan.
2.
Tujuan Khusus
1. Ingin mengethui prosesi Upacara
Pengabenn di Desa Pedawa
2. Ingin mengetahui Pengabenan di Desa
Pedawa tidak mebakar serta tidak
menggunakn Bade dan lembu.
3. Ingin mengetahui
Nilai pendidikn apa yang terkandung dalam upacara pengabenan di desa Pedawa .
E. Manfaat Penelitan
Setiap penelitian yang dilakukan
pasti memiliki manfaat dari penelitian yang dilakukan, adapun manfaatnya yaitu
manfaat praktis dan manfaat teoritisnya.
1.1 Manfaat Teooritis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoritis untuk menambah
wawasan dan pemahaman mengenai upacara Pitra Yadnya yang terdapat di Bali
kusussnya upacara Pengabenan tidak mbakar yang di laksanakan di desa pakraman
Padawa yang memiliki Nilai pendidikan agama hindu.
1.2 Manfaat
praktis
Secara praktis
hasil penelitin ini adalah : diharapkan dapat sebagai masukan bagii umat Hindu
agar bentuk, fungsi, makna dan nilai pendidikan Ngaben tidak mebakar dapat di
ketahui. hasil penelitian ini di harapkan dapat memberi masukan bahwa ngaben
tidak mebakar memiliki nilai dan arti yang sangat luas
Pnelitian ini juga memiliki manfaat
bagi Mahasiswa sebagai latihan dalam penulisan karya ilmiah selain itu
penelitian ini di harapkan dapat merangsang pihak-pihak yang bermnat untuk
melakukan penelitian lanjutan.
F Kajian Pustaka
Kajian pustakayang akan dikaji
dalammendukung penelitian baik dalam bentuk pustaka-pustakaberupabuku-buku
karya tulis atau sekripsi yang di pandang perlu dan bermanfaat dalamupaya
melaksanakan yang berjudul Tinmjauwan upacara Ngaben dikuburbagikeluarga adat
Seraya di Desa adat Gerokgak kecamatan Gerokgak kabupaten Grokgak, Hasil
penelitiannya menujukkan bahwa pelaksanaan upacara ngabnen di kubur adalah
salah satu pelaksanaan upacara ngaben yang hanya dimiliki oleh warga adat
serayaupacara ini lahir dan berkembang pertama kali di desa Seraya kecamatan
Amlapura kabupaten Karangasem. Makna simbolik upacara ngaben di kubur adalah
sebagai perwujudan swadharma atasdasar keimanan atau keyakinan umat khususnya
warga seraya untuk mempercepat proses kembalinya badan kasar ke unsur panca Maha Butha
Mengenai rangkaiyan pelaksanaan
upacara ngaben dikubur yaitu diawali dengan pelaksanaan sawe pretekevyaitu
upacara memandikan jenazah disertai dengan kelengkapan upacaranya lalu di usung
ke kuburan.
Kontribusi terhadap penelitian yang
di lakukan adalah dapat di gunakasebagai bahan banding dalammengkaji proses
serta sarana dan prasarana dalam rangkaiyan proses Tradisi upacara ngaben
tidak mebakar puncak pelaksanaannya di sungai di desa pedawa sehingga dapat
mem,berikan gambaran tentang beberapa kompenen ataupun proses atau sarana
dalamrangkaiyan upacara kematian.
Sutari (2008) dalam penelitiannya
yang berjudul Upacara pengabenan Madule Kauh Bagi para Gotra sentana DalamTarukan di Banjar Adat sengguan kabupaten
Buleleng ( Persepektif pendidikan agama) menyatakan bahwa sejarah awal
pelaksanaan upacara ini hanya dilandaskan dalam babad pulasaribahwa putri
beliau dalam dalamtarukan yang bernama I
gusti Luh Wanagiri tanpa men pada waktu
wafat mayatnya di kubur dengan keoalamenghadap ke barat halinilah yang
diwarisioleh penerusnya ( pritisentana ) hingga saatini masih mentradisi di
kalangan keturunan ( santana dalamtarukan
Marma (2009) Dalampenelitiannya
Berjudul Tradisi penguburan Mayat tanpa menggunakan dewasa Ayu padamasyarakat
di Desa Tigawasa kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng persepektif kalian
nilai-nilai pendidikan agama hindu.mengemukakan bahwa proses pelaksanaan
penguburan mayat tanpa menggunakan dewasa ayu ini di mulai dari
orang yang baru meninggal sampai dengan propesi pengenguburan mayat. Baik yang
langsung di kubur maupun yang langsung di aben. Dengan proses serta sarana
upakara
G Konsep
Konsep merupakan
satu Syarat yang ada dalamkegiatan penelitian atau penulisan karya ilmiah
Halini disebabkan konsep mampu menggambarkan sejumlah variabel terhadap topik
yang di teliti konseo juga di pakai menjabarkan hasil-hasilpenelitian
sebeliumnya dan dibandingkan dengan penelitian yang akan dilaksanakan guna
menjawab permasalahan yang akan diteliti ( sudjarwa 2001:13)dalam penelitian
terhadap Tradisi upacara ngaben tidak mebakar puncak pelaksanaannya di
sungai di Desapedawa kecamatan banjar kabupaten bulelengkajian pendidikan
agama hindu maka konsep yang di kemukakan adalah
1 Tradisi
Tradisi
merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu
lama dan dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang. Tradisi
dipengaruhi oleh kbaik yang ecenderungan untuk berbuat sesuatu dan mengulang sesuatu
sehingga menjadi kebiasaan. Tradisi dalam bahasa latin tradition atau kebiasaan
dalampengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak
lamadan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyaraka, biasanya dari
suatu negara, kebudayaan, waktu atau negara yang sama( www
Wikipedia-enslikopedia.com)
Tradisi-tradisi itu
bagaikan pendulang biji intan yang mengolah karakter seseorang dan memberinya
kilauan serta memperhalus untuk menghasilkan intan yang cemerlang sebagai
produk jadi. Semua itu membentuk cara berpikir seseorang dan sekaligus
memperhalus karakternya. Tradisi-tradisi yang dibentuk oleh Hinduisme merupakan
penerapan praktis pemikiran-pemikiran yang maha mulia yang terkandung didalam
kitab-kita suci seperti Veda, Smrti dan berbagai Purana.
Agama mengisyaratkan tradisi-tradisi serta adat yang dilakukan
dengankehadiran api. Api bertindaksebagai saksi bagi semua adat, tradisi dan
ritual. Segala bentuk ritual dilakukan tanpa kehadiran api dipandang sama
mentahnya dengan makanan yang belum dimasak atau tidak diterima sebagai suatu
dokumen tertulis dengan pensil di atas selembar daun ara.
Segala tindakan penting kehidupan Hindu harus dilakukan sesuai dengan
adat, tradisi dan ritual atau upacara yang benar untuk memberinya makna
kesungguhan religious dan kesucian. Banyak orang modern tidak mengindahkan
tradisi dan adat tanpa menyadari bahwa ada nada logika dan alasan-alasan ilmiah
dibalik semua itu. Sesungguhnya, hal itu adalah cap air yang membedakan
kehidupan manusia dengan kehidupan seekor binatang. Satu-satunya hal yang tidak
menguntungkan adalah beberapa tatanan religious yang disalah artikan, diberikan
arah yang salah, disalah pahami dan disalah gunakan oleh unsur-unsur pribadi
didalam hirarki relogius demi eksploitasi massa.
2. Upacara
(Surayin 2005:9)
Menyebutkan bahwa upacara berasal dari kata upa
yang berarti “berhubungan”, dan cara
yang berasal dari kata car yang
berarti gerak kemudian mendapat akhiran a
menjadi kata benda yang berarti “gerak”. Jadi upacra adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan gerak atau kegiatan dalam kata lain upacra adalh gerak
(pelaksanaan) dari suatu yadnya. Pada
umumnya upacara itu adalah bentuk materi yang juga disebut “banten”, sebagai mana diketahui yadnya di Bali selalu dilengkapi dengan
sesajen-sesajen (upakara).
3. Ngaben
Upacara Ngaben atau
sering pula disebut upacara Pelebon
kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak,
karena dengan pengabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang
meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju sorga, atau menjelma kembali ke
dunia melalui reinkarnasi atau kelahiran kembali.
H. Teori Yang di Gunakan
Suatau teori/konsep yang dijadikan dasar penelitian
berguna untuk membaca fenomena emferik sehingga konsep/teori ini berfungsi
untuk “to understand”, yaitu peneliti
dapat mengerti tetang sesuatu merupaakn modal bagi peneliti untuk dapat
menjelaskan “to describle” dan kadar
lebih tinggi lagi adalah dapat mendiskripsikan secara cermat dan utuh “to explain”. Apabila peneliti sudah
dapat menjelaskan ia daapt mengontrol atau mengevaluasi suatu fenomena dan dapat membuat prediksi
terhadap hasil-hasil temuan emperik.
Fungsi teori/konsep yang berangkat dari fenmena emperik
dapat menjadi instrument untuk mengetahui suatu kondisi yang diinginkan di masa
depan, atau disebut juga dengan “to
predict”. Dengan teori yang tepat, peneliti dapat
mengestimasi/memproyeksikan, tidak menutup kemungkinan kalau melalui teori masa
depan dapat diramalkan arah kecendrungannya. (Satrio, Komariah.2011:7)
1. Teori Struktural-Fungsional
Teori
merupakan sinteseis dari teori fungsionalisme dengan teori strukturalisme.
Teori fungsionalisme berbicara soal kebutuhan hidup manusia, dan teori
strukturalisme berbicara jaringan kehidupan yang mengatur kebutuhan.
Teori
Struktural-Fungsional : Keseimbangan diantara tap-tiap kebudayaan adalah untuk
memenuhi kebutuhan (fungsional) melalui hubungan yang harmonis diantara anggota
masyarakat (structural).
2.
Teori Religi
Emmosi keagamaan
yang mencul itu membutuhkan suatu ojek tujuan. Mengenai apa yang menyebabkan
bahwa sesuatu hal menjdi obye dari emosi keagamaan, bukanlah terutama sifatnya
yang luar biasa atau aneh dan megah, tetapi adanya tekanan berupa anggapan umum
dalam masyarakat. Misalanya karena salah satu peristiwa secara kebetulan pernah
dialami orang banyak. Obyek yang menjadi tujuan emosi keagamaan juga dapat
bersifat sacre (keramat), sebagai lawan
dari sifat profane (tidak keramat), yang tidak memiliki nilai keagamaan.
3. Teori Nilai
Teori Nilai membahas dua masalah yaitu masalah Etika
dan Estetika. Etika membahas tentang baik buruknya tingkah laku manusia
sedangkan estetika membahas mengenai keindahan. Pengertian nilai itu adalah
harga dimana sesuatu mempunyai nilai karena dia mempunyai harga atau sesuatu
itu mempunyai harga karena ia mempunyai nilai. Perbedaan antara nilai sesuatu
itu disebabkan sifat nilai itu sendiri. Nilai bersifat ide atau abstrak (tidak
nyata). Nilai bukanlah suatu fakta yang dapat ditangkap oleh indra.
Masalah kebenaran memang tidak terlepas dari nilai, tetapi
nilai adalah menurut nilai logika. Tugas teori nilai adalah menyelesaikan
masalah etika dan estetika dimana pembahasan tentang nilai ini banyak teori
yang dikemukakan oleh beberapa golongan dan mepunyai pandangan yang tidak sama
terhadap nilai itu. Seperti nilai yang dikemukakan oleh agama, positivisme,
pragmatisme, fvtalisme, hindunisme dan sebagainya.
I.
Metode Penelitian
Penelitian merupakan aktifitas yang menggunakan kekuatan
pikir dan aktifitas observasi dengan meggunakan kaidah-kaidah tertentu untuk
menghasilkan ilmu pengetahuan guna memecahkan suatu persoalan. Aktifitas pikir
dalam penelitian bukaan semata-mata memindahkan teori-teori yang sudah mapan
hasil pikir authoritative dan intuitif kedalam suatu rencana penelitian untuk
dibuktikan kebenarannya, akan tetapi merupaakn aktifitas pikir ilmiah. Artinya
peneliti paham bagaimana melakukan penelitian untuk menguji teori-teori atau
menemukan yang masih rahasia dengan menggunakan kerangka berpikir yang rasional
yang dapat menganalisis data/fakta secara ilmiah sehingga menjadi teori yang
teruji kebenarannya dan berrti bagi pemecahan masalah dan pengembangan ilmu.
Untuk memproleh teori yang benar, penelitian dilaksanakan dengan menggunakan
metode ilmiah. Artinya penelitian berdasarkan atas teori-teori, prinsip-prinsip
serta asumsi dasar ilmu pengetahuan. (Satrio, Komariah.2011:3-4)
1. Pendekatan
Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin
mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak daapt dikuantifikasikan yang bersifat
deskriptif proses suau langkah kerja, formula suatu resep, pengertia-pengertian
tentang suatu konsep yang beragam, tata cara suatu budaya dan yang lainnya.
menurut (Mulyana:2003 dalam Satrio, Komariah.2011:22-23) pendekatan kualitatif cendrung mengarah pada penelitian yang
bersifat naturalistik fenomenologis, dan penelitian etnografi.
Pendekatan kualitatif atau disebut juga pendekatan
naturalistic adalah pendekatan yang menjawa permasalahan penelitiannya
memerlukan pemahaman secara mendalam untuk menghasilkan kesimpulan-kesimpulan
penelitian dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan.
Penelitian kualitatif merupaakn suatu pendekatan
penelitian yang mengungkapkan situasi social tertentu dengan mendiskripsikan
kenyataan secara benar, dibentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan
dan analisis data yang relevan yang diproleh dari situasi yang ailmiah.
(Satrio, Komariah.2011:22-23)
Jadi pendekatan
penelitian kualitatif merupaakn suatu pendekatan yang digunakan untuk
mengeksplor suatu fenomena yang berkaitan dengan sosial budaya, bersarkan
fakta-fakta yang terdapat dilapanangan.
Pendekatan
Ex Post Facto
Kerlingger
(1973) penelitian kausal komparatif yang disebut juga sebagai penelitian Ex Post Facto adalah penyelidikan
empiris yang sistematis dimana ilmuan tidak mengendalikan variable bebas secara
langsung karena eksistensi dari variable telah terjadi.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi dari
penelitian yang penulis lakukan yaitu di Desa Pakraman Pedawa, Kecamata Banjar
Kabupaten Buleleng. Alasan penulis memilih Desa Pakraman Pedawa sebagai tempat
penuli untuk melakukan penelitian di Desa ini karena Desa Pakraman Pedawa
merupakan salah satu Desa Bali Age yang terdapat di Daerah kabupaten Buleleng.
Dan tradisi Upacara pengaben tidakmebakar yang terdaapat Desa Pakraman Pedawa cukup menarik bagi
penulis unuk dijadikan bahan penelitian.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Dalam melakukan suatu
penelitian yang bersifat akademis, maka sudah tentu harus ditentukan objek
penelitiannya.Untuk mencapai suatu penelitian dimaksud, disamping menentukan
objek penelitian juga harus menentukan subyek penelitian sebagai sumber
pendukung.
3.1 Subjek
Penelitian
Suatu penyelidikan terlebih dahulu ditentukan Subjek Penelitian. Subjek
Penelitian adalah sumber utama pada penelitian yang memiliki data mengenai
variable-variabel yang diteliti. Dalam penyelidikan ini criteria pemilihan
Subjek adalah tingkat masalah-masalah yang diteliti. Selain itu, daftar
informan juga sangat diperlukan dan penting untuk diperhatikan. Informan adalah
seseorang yang dapat dijadikan sumber data yang baik secara lisan maupun
tertulis yang memiliki kreadibilitas terhadap subjek penelitian.
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah
masyarakat Hindu di Desa Pakraman Pedawa
yang melaksanakan upacara pengabenan tidak mebakar. .
3.2 Objek Penelitian
Objek Dalam penelitian ini
adalah Tradisi
pengabenan tidak mebakar yangdilaksanakan di sungai,yang terdapat di Desa
Pedawa, Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng.
4. Jenis Data dan Sumber Data
Penelitian
4.1
Data Primer
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh
peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat
oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan
historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan
dan yang tidak dipublikasikan.
Sebelum proses pencarian data sekunder dilakukan, kita perlu
melakukan identifikasi kebutuhan terlebih dahulu. identifikasi dapat dilakukan
dengan cara membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1) Apakah kita
memerlukan data sekunder dalam menyelesaikan masalah yang akan diteliti? 2)
Data sekunder seperti apa yang kita butuhkan? Identifikasi data sekunder yang
kita butuhkan akan membantu mempercepat dalam pencarian dan penghematan waktu
serta biaya.
4.2 Data
Skunder
Data primer merupakan
sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media
perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual
atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau
kegiatan, dan hasil pengujian. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data
primer yaitu : (1) metode survei dan (2) metode observasi.
5. Teknik Penentuan Informan
Informan adalah
orang pada latar penelitian. Fungsinya untuk memberikan informasi tentang situaasi
dan kondisi latar penelitian. Seorang informan harus memiliki banyak pengalaman
tentang latar penelitian sebagai anggota tim ia dapat memberikan pandangan dari
segi orang dalam tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses, dan kebudayaan
yang menjadi latar peneliti. Seorang informan harus jujur, patuh pada
peraturan, suka berbicara, tidak termasuk anggota salah atau kelompok yang
mempunyai komplik dalam latar peneliti.
6. Teknik Pengumpulan Data
Fase terpenting
dari peneliti adaalh pengumpulan data, pengumpulan data tidak lain dari suatu
proses pengdaan data menghasilakan temuan, kalau tidak memproleh data.
pengumpulan data dalam penelitian ilmah adalah prosedur yang sistematis untuk
memproleh data yang diperlukan. dalam penelitian kualitatif teknik pengumpuln
data yang dapat dilakukan melalui setting dari berbagai sumber, dan berbagai
cara. Dilihat dari settingnya, data dapat dikumpulkan dengan menggunakan primer
dan sumber skunder. Sumber primer adalah data yang langsung memberikan data kepadda
peneliti, dan sumber sekunder merupaakn sumber yang tidak langsung memberikan
data kepaad peneliti.
Instrumen peneliti kualitatif adalah “human istrumen” atau manusia sebagai
informan ataupun yang mencari data dan instrument utama. Peneliti kualitatif
adalah peneliti itu sendiri sebagai ujung tombak pengumpulan data (Instrumrn).
Peneliti terjun secara langsung ke lapangan untuk mengumpulkan sejumblah
informasi yang dibutuhkan, dengan menggunakan teknik yang digunakan dapat
berupa kegiatan observasi, partisipasi, studi dokumentasi, dan wawancara.
6.1 Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan
pengamatan langsung terhadap subyek dimana sehari-hari mereka berada dan biasa
melakukan aktivitasnya. Ada dua macam observasi yaitu observasi secara langsung
maupun observas tidak langsung. Observasi merupakan pengamatan langsung
“natural setting” Dengan demikian pengertian observasi kualitatif adalah
pengamatan langsung terhadap objek, situasi, konteks, dan maknanya dalam upaya
mengumpulkan data peneliti.
6.2 Wawancara
Wawancara yang dilakukan adalah untuk melakukan adalah
untuk memproleh makna yang raasional, maka observasi perlu dikuatkan dengan
wawancara. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan melakukan dialog
langsung dengan sumber data, dan dilakukan secara tak bersetruktur, dimana
responden mendapat kebebaasan dan kesempatan untuk mengelukan pikiran,
pandangan, dan perasaan secara natural.
Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk
mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan
atau Tanya jawab. Wawancara dalam penelitian kualitatif sifatnya mendalam
karena ingin mengeksplorasi informasi secara holistik dan jenis dari informan.
Wawancara dapat digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila menemukan
permasalahan yang harus diteliti, dan peneliti berkeinginan untuk mengetahui
hal-hal yang berhubungan dengan informan lebih mendalam.
Sebagai pegangan peneliti dalam menggunakan metode
interviu adalah bahwa subjek adalah informan yang tahu tentang dirinya sendiri.
Dengan demikian mengadakan wawancara pada prinsipnya merupakan usaha untuk
mengali keterangan yang lebih dalam dari sebuah kajian dari sumber yang relevan
berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran dan sebagainnya.
6.3 Dokumentasi
Selain sumber manusia (human resouerces) melalui
observasi dan wawancara sumber lainnya sebagai pendukung yaitu dokum-dokumen
tertulis yang resmi ataupun tidak resmi.
Dokumen merupakan catatan pristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Yang
dimaksud dokumen adalah catatan kejadian atau pristiwa yang sudah lampau yang
dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan dan karya.
7. Teknik Pengolahan Data
7.1 Reduksi Data
Dilakukan identifikasi terhadap unit/bagian terkecil
dalam susunan yang memiliki makna bila dikaitkan dengan focus masalah
penelitian. Setelah ditemmuan bagian terkecil dalam data tersebut kemudian
dilakukan pengkodean terhadap setiap unit tersebut dengan tujuan agar unit
tersebut dapat ditelusuri sumber asalnya.
7.2 Display Data
Bagian data yang memiliki kesamaan dipilih dan diberi
label (nama). Oprasionalisasi mengkatagorikan data dengan cara data yang
diproleh dikatagorisasikan meneurut
pokok permasalahan dan dibuat dalam bentuk matriks sehingga memudahkan peneliti
untuk melihat pola-pola hubungan suatu data lainnya. setiap katagori yang ada
dicari kaitannya kemudian dieri label (nama).
7.3
Analisi Data
Analisis data
adaalh suatu fase penelitian kualitatif yang sangat penting karena melalui
analisis data inilah peneliti dapat memproleh wujud dari penelitian yang
dilakukannya. Analisis adalah suatu upaya menguraikan menjadi bagian-bagian,
sehingga susunan/tatanan bentuk sesuatu yang diurai tampak dengan jelas.
Menganalisis adalah suatu aktivitas yang tidak akan sama bentuk dan langkahnya
antara satu orang dengan yang lainnya. Namun demikian, apabilan merujuk arti
analisis sebagai suatu upaya mengurai
menjadi bagian-bagian, maka peneliti dapat memulai analisis dari fakta-fakta
lapangan yang ditemukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar